Minggu, 27 Oktober 2013

Komposisi Air Laut di beberapa Samudera, Alasan kenapa air laut asin?


Soal                 :
Ø  Komposisi Air Laut di beberapa Samudera, Daftar Pustaka dan Peta posisi Lautnya?
Aktifitas apa saja yg ada di tempat tersebut? Misalnya kalau ada :
a.       Eksplorasi/ masalah tambang bawah laut?
b.      Perikanannya?
Ø  Alasan kenapa air laut asin?
Jawaban          :
Ø  Komposisi air laut
A. SAMUDERA PASIFIK
Samudera Pasifik merupakan salah satu samudera dengan sumber mineral yang sangat banyak. Diperkirakan lautan pasifik ini mengandung 207 milyar ton besi, hampir 10 milyar ton titanium, 25 milyar ton magnesium, 1,3 milyar ton timah hitam, dan hampir 800 juta ton vanadium. Selain perkiraan tersebut lautan pasifik masih mengandung jenis bahan tambang lain. Cadangan mineral di lautan ini kira-kira sebanyak 1.700 miliar ton yang tersebar di dasar laut dalam Samudera Pasifik.
Perkembangan teknologi yang semakin pesat, semakin berkurang pula sumber daya serta energi yang berada di bumi dan semakin bertambah banyak tuntutan itu mendapatkan bahan-bahan tersebut, yang tentu saja menyadarkan seisi jagad semesta berpaling sejenak dari darat untuk melihat sisi lain dari pemanfaatan isi lautan. Walaupun jumlah dana yang dibutuhkan tidak sedikit untuk melakukan eksploitasi di lautan. Namun, manusia-manusia modern saat ini akan terus beragresi agar mendapatkan keuntungan ekonomi di aspek kelautan. Kita semua sadar akan sumberdaya yang terdapat dibumi ini semakin menipis seiringnya denga bertambahnya populasi dunia yang terus membengkak dari tahun ke tahun.

Peta POSISI lautan :
Samudra Pasifik atau Lautan Teduh (dari bahasa spanyol Pacifico, artinya tenang) adalah kumpulan air terbesar di dunia. Ia mencakup kira-kira sepertiga permukaan Bumi, dengan luas sebesar 179,7 juta km² (69,4 juta mi²). Panjangnya sekitar 15.500 km (9.600 mi) dari Laut Bering di Arktik hingga batasan es di Laut Ross di Antartika di selatan. Samudra Pasifik mencapai lebar timur-barat terbesarnya pada sekitar 5 derajat U garis lintang, di mana ia terbentang sekitar 19.800 km (12.300 mi) dari Indonesia hingga pesisir Kolombia. Batas sebelah barat samudra ini biasanya diletakkan di Selat Malaka. Titik terendah permukaan Bumi—Palung Mariana—berada di Samudra Pasifik. Samudra ini terletak di antara Asia dan Australia di sebelah barat, Amerika di sebelah timur, Antartika di sebelah selatan dan Samudra Arktik di sebelah utara.
Samudra Pasifik berisi sekitar 25.000 kepulauan (lebih dari jumlah kepulauan yang berada di lautan dunia lainnya jika digabung), yang mayoritas terletak di selatan khatulistiwa. (Lihat: Kepulauan Pasifik.)
Di batasan ireguler Samudra Pasifik terdapat banyak lautan, yang terbesar adalah Laut Sulawesi, Laut Koral, Laut China Timur, Laut Jepang, Laut China Selatan, Laut Sulu, Laut Tasman dan Laut Kuning. Selat Malaka menghubungkan Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia di sebelah barat, dan Selat Magelhaens menghubungkan Samudra Pasifik dengan Samudra Atlantik di sebelah timur.

B. SAMUDERA ATLANTIK
PARA peneliti dari "the Woods Hole Oceanographic Institution" dan Universitas Liverpool, Inggris, telah menemukan lapisan besi dan bahan-bahan gizi, lebih dari 600 mil panjangnya, di Samudera Atlantik Selatan.
Hal ini menantang anggapan lama mengenai sumber-sumber dan melimpahnya besi di bawah laut. Penemuan ini timbul dari contoh-contoh air yang dikumpulkan dalam ekspedisi laut tahun 2007 untuk memetakan komposisi kimia samudera antara Brazil dan Namibia. 
Mutu besi dan mutu batu kawi (manganese) sangat tinggi sepanjang "Mid-Atlantic Ridge," ditemukan pada kumpulan gunung-gunung dan lembah-lembah di bawah air dimana lapisan-lapisan tektonika bumi pelan-pelan bergerak berpisahan.
Para peneliti sudah lama menganggap bahwa "the MidAtlantic Ridge," dan "ridge" lainnya yang lamban menyebar, adalah  miskin besi. Studi-studi sebelumnya telah memperlihatkan bahwa "ridge" semacam itu memancarkan helium sangat sedikit, yang dikira menunjukkan adanya besi. Penemuan-penemuan baru memberikan keraguan pada asumsi itu.
            Besi adalah kritis (genting) bagi kehidupan samudera, memacu pertumbuhan "phytoplankton" dan unsur-unsur lain  yakni marine carbon cycle.
 "Tetapi dalam hubungan photosynthesis, kira-kira sepertiga dari produktivitasnya di samudera sebenarnya kekurangan besi sebab sangat tidak dapat dilarutkan," kata Dr. Saito.
 Jika "ridges" lamban bergerak, yang merupakan setengah dari "ridges" di bawah laut dunia, menghasilkan lebih banyak besi daripada yang sebelumnya diduga, ia tambahkan, kemungkinan besar berubah cara menggambarkan dan contoh inventaris besi di samudera-samudera
Peta POSISI lautan :

Samudra Atlantik adalah samudra terbesar kedua di dunia, meliputi sekitar 1/5 permukaan Bumi. Kata Atlantik berasal dari mitologi Yunani yang berarti "Laut Atlas".
Samudra ini berbentuk huruf S, memanjang dari belahan bumi utara ke belahan bumi selatan, terbagi dua oleh garis khatulistiwa menjadi Atlantik Utara dan Atlantik Selatan. Dibatasi oleh Amerika Utara dan Amerika Selatan di bagian barat samudera dan Eropa dan Afrika di bagian timur samudra.
Samudra Atlantik berhubungan dengan Samudra Pasifik, di bagian utara bumi melalui Samudra Arktik dan di bagian selatan bumi melalui Lintasan Drake. Hubungan buatan manusia antara Samudra Atlantik dengan Samudra Pasifik dibuat melalui Terusan Panama. Batas antara Samudra Atlantik dengan Samudera Hindia di bagian timur, dibatasi pada garis 20° Bujur Timur. Batas antara Samudra Atlantik dengan Samudra Arktik adalah garis dari Greenland ke Svalbard di sebelah utara Norwegia.
Mencakupi sekitar 20% permukaan Bumi, Samudra Atlantik berada di urutan kedua terbesar dalam segi ukurannya setelah Samudra Pasifik. Bersama dengan lautan di sekitarnya ia mempunyai luas sebesar 106.450.000 km²; jika lautan di sekitarnya tidak dihitung, luasnya 82.362.000 km². Jumlah wilayah yang mengalir ke Samudra Atlantik lebih besar empat kali daripada Samudra Pasifik maupun Samudra Hindia. Volume Samudra Atlantik dengan lautan sekitarnya adalah 354.700.000 km³ dan tanpanya adalah 323.600.000 km³.
Kedalaman rata-rata Samudra Atlantik, dengan lautan di sekitarnya adalah 3.332 m (10.932 kaki); tanpanya adalah 3.926 m (12.877 kaki). Kedalaman terbesar, 8.605 m (28.232 kaki), berada di Palung Puerto Riko. Lebar Samudra Atlantik beragam, dari 2.848 km (1.769 mil) di antara Brasil dan Liberia hingga sekitar 4.830 km (3.000 mil) antara Amerika Serikat dan sebelah utara Afrika.
Samudra Atlantik mempunyai pesisir pantai yang tak beraturan (ireguler) yang dibatasi berbagai teluk dan lautan, termasuk Laut Karibia, Teluk Meksiko, Teluk St. Lawrence, Laut Mediterania, Laut Hitam, Laut Utara, Laut Baltik, dan Laut Norwegia-Greenland. Pulau-pulau di Samudra Atlantik termasuk Svalbard, Greenland, Islandia, Rockall, Britania Raya, Irlandia, Fernando de Noronha, Azores, Kepulauan Madeira, Kepulauan Canary, Tanjung Verde, Bermuda, Hindia Barat, Ascension, St. Helena, Tristan da Cunha, Kepulauan Falkland, dan Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan.





C. SAMUDERA HINDIA
Samudera Hindia merupakan samudera yang telah dikenal sejak zaman dahulu sebagai jalur lalu lintas perdagangan internasional. Samudera Hindia berbatasan langsung dengan Asia Selatan disebelah utara, Afrika dan Timur Tengah disebelah barat, Indonesia dan Australia disebelah Timur, dan Antartika disebelah selatan. Tanpa adanya Samudera Hindia seluruh pedagang dari Eropa dan Amerika untuk menuju daratan Asia harus mengitari Benua Afrika yang luasnya mencapai delapan kali lebih jauh dibanding dengan melalui Samudera Hindia. Samudera Hindia memiliki luas sebesar ± 68. 556.000 km² dengan kedalaman rata-rata 3.850 m. Termasuk didalamnya Laut Merah, Teluk Persia, Laut Jawa, dan Laut Arab.
Peradaban dunia pertama terjadi di Mesopotamia yang kemudian berkembang hingga ke Lembah Hindus India dan kemudian semakin tumbuh dan berkembang populasinya hingga ke Samudera Hindia. Pentingnya Samudera Hindia bagi dunia sudah terlihat sejak dahulu dimana Samudera Hinda telah dijadikan tempat peradaban pertama di dunia. Samudera Hindia memiliki kandungan minyak murni dan mineral yang sangat banyak jumlahnya sehingga, diperkirakan akan menjadi tempat eksploitasi baru yang sangat berpotensial sebagai sumberdaya mineral. Selama ini seluruh penjuru dunia hanya melihat potensi yang dihasilkan oleh Samudera Pasifik tanpa mempedulikan kandungan mineral yang dimiliki Samudera Hindia. Padahal yang kita ketahui bersama bahwa di Kawasan Samudera Hindia ini merupakan induk laut dari negara-negara penghasil minyak terbesar di dunia seperti negara-negara yang terletak di Kawasan Timur Tengah.
Samudera Hindia merupakan satu potensi nyata terhadap tumbuhnya ekonomi baru. Melupakan sejenak sumber daya yang dikandung Samudera Pasifik dan beralih kepada potensi yang dimiliki oleh Samudera Hindia. Inilah babak baru dari percaturan ekonomi politik yang dapat melibatkan beberapa negara terdekatnya dengan saling adanya upaya bersama maupun masing-masing negara untuk mengambil keuntungan dari Samudera Hindia itu sendiri. Karena berada disekitar negara-negara penghasil minyak nomor satu di dunia maka, Samudera Hindia menjadi Lautan yang memiliki kandungan mineral dan produsen minyak terbanyak diseluruh dunia.
Peta POSISI lautan :

Samudra Hindia, Samudra Indonesia atau Samudra India adalah kumpulan air terbesar ketiga di dunia, meliputi sekitar 20% permukaan air Bumi. Di utara dibatasi oleh selatan Asia; di barat oleh Jazirah Arabia dan Afrika; di timur oleh Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, dan Australia; di selatan oleh Antartika. Samudra ini dipisahkan dengan Samudra Atlantik oleh 20° timur meridian, dan dengan Samudra Pasifik oleh 147° timur meridian. Samudra Hindia atau Samudra India adalah satu-satunya samudra yang menggunakan nama negara yaitu India.

D. SAMUDERA ARKTIK
Es di lautan Arktik sudah menyusut sampai ke luas permukaan terkecil sejak dimulainya pencatatan. Akibatnya, dunia pun kini berada dalam 'skenario yang tak pernah diprediksi sebelumnya' seiring dengan makin intensifnya dampak perubahan iklim, menurut ilmuwan Amerika Serikat. Gambaran satelit menunjukkan lapisan es sudah meleleh sampai 3,4 juta kilometer persegi per 16 September, titik terendah pada tahun ini. Ini adalah luas tutupan es terkecil di Arktik sejak dilakukan pencatatan pada 1979 menurut Pusat Data Salju dan Es Nasional. "Kini kita berada di situasi yang tak pernah dibayangkan.
"Meski kita sudah lama tahu bahwa seiring dengan menghangatnya planet, perubahan akan pertama terlihat jelas di Arktik, namun hanya sedikit dari kita yang tahu bagaimana mempersiapkan diri terhadap cepatnya perubahan yang kini sudah terjadi."
Es di Arktik memang meluas dan menyusut sesuai musim, dan titik terendah biasanya terjadi pada September. Tahun ini penuh dengan luasan es yang terus menyusut ke titik terendah, rekor tersebut sudah terjadi pada 26 Agustus dan 4 September.
Dan dalam dua pekan terakhir, tutupan luas es yang meleleh mencapai 517.997 km persegi, angka yang cukup besar untuk akhir musim panas. Menurut ilmuwan Walt Meier, "Penurunan tutupan es yang kuat di akhir musim panas menjadi indikasi betapa tipisnya es ini sekarang."
Para ilmuwan menggunakan luas es Arktik sebagai patokan iklim secara keseluruhan. Terlepas dari fluktuasi tahunan akibat variasi cuaca alami, lapisan es ini terlihat jelas menunjukkan tren menyusut dalam 30 tahun terakhir, menurut Pusat Data Salju dan Es Nasional.
"Tingkat minimum tahun ini hampir 50 persen lebih rendah dari rata-rata 1979-2000," menurut mereka.
Pusat penelitian yang berbasis di Colorado ini mengatakan bahwa komposisi Arktik kini berubah.
Saat sebelumnya es tetap membeku sepanjang musim panas, kini sebagian besar meleleh dan membeku lagi saat musim berganti. "Dua puluh tahun dari sekarang di bulan Agustus, Anda mungkin bisa menaiki kapal melewati Samudera Arktik," kata ilmuwan Julienne Strove. Padahal kawasan itu biasanya tertutup oleh es sepanjang tahun.
Berbagai model iklim memprediksikan "kondisi bebas es" itu terjadi pada 2050, namun penurunan luasan es ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut bisa terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan.
Pusat penelitian tersebut kini memperingatkan bahwa panas dan kelembaban dari tutupan es Arktik yang meleleh bisa membawa implikasi global. "Ini akan secara bertahap memengaruhi iklim di area tempat tinggal kita," ujar dia.
"Kita memiliki lebih sedikit kutub polar, maka akan ada lebih banyak variasi dan ekstrem (cuaca)." Aktivis lingkungan Greenpeace memprihatinkan pengumuman tersebut. Mereka berharap fakta ini akan memicu rasa darurat dan aksi memperlambat tren ini. "Hanya dalam 30 tahun, kita sudah mengubah bagaimana planet kita terlihat dari luar angkasa. Dan kini dengan segera Kutub Utara akan bebas es pada musim panas," kata Direktur Greenpeace Kumi Naidoo dalam sebuah pernyataan.
Menurut ilmuwan, perubahan iklim terjadi saat karbondioksida dan berbagai gas yang dihasilkan manusia muncul ke atmosfer dan membuat planet sulit untuk merefleksikan kembali panas itu ke angkasa, sehingga terjadi efek rumah kaca. Bersamaan dengan melelehnya es di Greenland, gas rumah kaca lain, metana, yang terperangkap di es abadi pun terlepas ke udara.
 Metana tersebut berasal dari sisa jasad tumbuhan dan hewan yang terperangkap dalam sedimen dan kemudian terutup lapisan es dalam Zaman Es terakhir. Metana 25 kali lebih efektif dalam memerangkap panas sinar matahari daripada karbondioksida.
Saat metana dilepas ke atmosfer dan planet menghangat lagi karena efek rumah kaca, maka lebih banyak es lagi yang akan meleleh, dan melepaskan lebih banyak karbon ke udara.

Peta POSISI lautan :

Samudra Arktik mengisi sebuah basin bundar dan memiliki luas sekitar 14.056.000 kilometer persegi, hanya kurang sedikit dari 1.5 kali luas Amerika Serikat. Panjang garis pantainya adalah 45.389 kilometer. Hampir dikelilingi oleh daratan sepenuhnya, Samudra Arktik mencakup Tanjung Baffin, Laut Barents, Laut Beaufort, Laut Chukchi, Laut Siberia Timur, Laut Greenland, Tanjung Hudson, Teluk Hudson, Laut Kara, Laut Laptev, Laut Putih dan badan-badan air lainnya. Terhubung dengan Samudra Pasifik oleh Teluk Bering dan ke Samudra Atlantik melalui Laut Greenland dan Laut Labrador. Letak astronomisnya adalah 90°00′LU 0°00′BT
Sebuah palung samudra, Palung Lomonosov, membagi Samudra Arktik yang mengisi basin Kutub Utara menjadi dua basin: Eurasia, atau Nansen, Basin, (dinamakan setelah Fridtjof Nansen) yang dimana kedalamannya 4.000 dan 4.500 meter, dan Amerika Utara, atau Hyperborean, Basin, yang kedalamannya sekitar 4.000 meter. Bathymetry dari dasar samudra ditandai dengan fault-block ridge (seperti bukit), plains of the abyssal zone (seperti kawasan berlubang-lubang), laut-laut dalam, dan basin-basin. Rata-rata kedalaman Samudra Arktik adalah 1.038 meter. Titik terdalamnya terdapat di Basin Eurasia yaitu 5.450 meter.
Samudra Arktik terdiri atas sebuah chokepoint (aliran air yang sempit karena diapit oleh dua daratan) utama di selatan Laut Chukchi  yang menyediakan akses utara ke Samudra Pasifik melalui Teluk Bering antara Amerika Utara dan Rusia. Samudra Arktik juga menyediakan link (penghubung) laut terpendek antara barat dan timur Rusia yang ekstrem. Ada beberapa stasiun penelitian terapung di Arktik, dioperasikan oleh Amerika Serikat dan Rusia.
Masukan air terbesar berasal dari Atlantik melalui jalur Aliran Norwegia, yang kemudian mengalir sepanjang pantai Eurasia. Air juga masuk dari Pasifik melalui Teluk Bering. Aliran Greenland Timur membawa sebagian besar air yang keluar. Es menutupi sebgaian besar samudra sepanjang tahun, menyebabkan suhu yang mendekati beku sepanjang waktu. Arktik adalah sumber udara dingin yang bergerak ke arah ekuator, bertemu dengan udara hangat di garis lintang bagian tengah dan menyebabkan hujan dan salju. Kehidupan laut banyak terdapat di daerah terbuka, khususnya daerah yang lebih dekat dengan air di sebelah selatan. Pelabuhan-pelabuhan utama di Samudra Arktik adalah (Rusia) Murmansk dan Arkhangelsk, (Canada) Churchill, Manitoba dan (A.S.)Prudhoe Bay, Alaska.







Ø  Alasan kenapa air laut asin ?
Sebetulnya rasa asin pada air laut berasal dari daratan, kronologisnya begini... Pada saat terjadi hujan di daratan air akan meresap dalam tanah dan sedikit demi sedikit akan keluar lagi melalui sungai - sungai dan akhirnya mencapai laut. Nah pada saat perjalanan menuju ke laut tersebut air dari daratan juga membawa garam - garam mineral sehingga laut di penuhi garam - garam mineral.

Kita mengetahui laut mempunyai permukaan yang sangat luas sehingga hal ini menjadi salah satu faktor penguapan yang cukup besar, pada saat air laut menguap hanyalah H20 (air) sedang garam garam mineral tetap tinggal bersama air lauu, begitulah sehingga air laut rasanya asi. kadar keasinan air laut ini dipengaruhi oleh faktor suhu, biasanya semakin panas daerah tersebut air lautnya semakin asin. lalu kenapa air di danau itu tidak berasa asin padahal airnya juga dari daratan? Jawabannya karena permukaan air danau tidak cukup luas sehingga penguapannya tidak begitu besar, maksudnya air yang menguap dengan air yang masuk ke danau masih balance dan sumber mineralnya sangat terbatas beda dengan laut yang sumber mineralnya dari berbagai penjuru dunia menjadi satu.
Air laut adalah air dari laut atau samudera. air laut memiliki kadar garam rata - rata 3.5%. Artinya dalam 2,5 liter (2500 ml) air laut terdapat 60 gram garam (terutama, namun tidak seluruhnya, garam dapur/NaCI).
Walaupun kebanyakan air laut di dunia memiliki kadar garam sekitar 3,5%, air laut juga berbeda-beda kandungan garamnya. Yang paling tawar adalah di timur teluk finlandia dan di utara Teluk Bothnia, keduanya bagian dari Laut Baltik. Yang paling asin adalah Laut Merah, dimana suhu tinggi dan sirkulasi terbatas membuat penguapan tinggi dan sedikit masukan air dari sungai-sungai. kadar garam di beberapa danau dapat lebih tinggi lagi.
Air laut memiliki kadar garam karena bumi dipenuhi dengan garam mineral yang terdapat dalam batu-batuan dan tanah. Contohnya natrium, kalium, kasium, dll. Apabila air sungai mengalir ke lautan, air tesebut membawa garam. Ombak laut yang memukul pantai juga dapat menghasilkan garam yang terdapat pada batu - batuan. Lama-kelamaan air laut menjadi asin karena banyak mengandung garam.
KENAPA AIR LAUT BERWARNA BIRU ?
Alasan air laut berwarna biru pada dasarnya, air tidak memiliki warna. Air hanya menyerap cahaya yang kemudian merefleksikannya. Ada satu pertannya yang sering di ajukan mengenai laut, adalah mengenai warnanya. "Mengapa Laut Nampak Biru?"
Ada Dua proses optik utama pada air laut, dan zat terlarut atau tersuspensi dalam air laut, saat berinteraksi dengan cahaya yang masuk dari matahari. Dua proses ini adalah penyerapan (absorption) dan hamburan (scattering). Di atmosfer, alasan utama bahwa langit berwarna biru adalah disebabkan oleh hamburan cahaya Dilaut, cara utama air berinteraksi adalah dengan penyerapan cahaya, Air menyerap cahaya merah, dan pada tingkat lebih rendah, air juga menyerap cahaya merah, dan pada tingkat lebih remdah, air juga menyerap cahaya kuning dan hijau, menyebabkan warnanya bisa berubah ubah tergantung kedalaman dan tempatnya. Warna biru merupakan warna yang paling di serap oleh air, sehingga air nampak berwarna biru. Singkatnya, semakin dalam kedalaman laut, semakin ia berwarna kebiruan.
Diagram di atas menujukkan kedalaman cahaya yang akan menembus di air laut. Karena cahaya merah di serap kuat, menjadikannya hilang, dan cahaya biru terus menembus masuk kedalam. Dari diagram tersebut juga menjadi alasan kenapa air di dalam bak mandi berwarna putih, di karenakan semua cahaya masih di terserap oleh air sehingga membuat warnanya nampak putih. Sementara saat matahari mulai terbenam dan terbit, air laut akan kelihatan merah di permukaanya dikarenakan penyerapan cahaya tersebut.
Warna yang berbeda pada laut, sungai dan danau juga di sebabkan oleh tanaman yang hidup di dasarnya seperti alga yang terdapat pada laut merah, dan endapan yang tercwa di dalam air. seperti warna coklat yang merupakan endapan yang terbwa dari sungai, sehingga membuat warnanya nampak keruh.


Minggu, 13 Oktober 2013

Skala Wentworth


Klasifikasi Batuan Karbonat Dunham 1962


Definisi Daerah Aliran Sungai (DAS)

Definisi DAS
Daerah Aliran Sungai (DAS) secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan  wilayah/ kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak  sungai dan keluar pada sungai utama ke laut atau danau. Linsley (1980) menyebut DAS  sebagai “A river of drainage basin in the entire area drained by a stream or system of connecting streams such that all stream flow  originating in the area discharged through a single outlet”.











Daerah Aliran Sungai adalah suatu wilayah daratan yang menerima, menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkan ke laut atau danau melalui satu sungai utama. Dengan demikian suatu DAS akan dipisahkan dari wilayah DAS lain di sekitarnya oleh batas alam (topografi) berupa punggung bukit atau gunung. Dengan demikian seluruh wilayah daratan habis berbagi ke dalam uni-unit Daerah Aliran Sungai (DAS) (Asdak, 1995).

Dari beberapa  definisi di atas, dapat dikemukakan bahwa DAS merupakan ekosistem, dimana  unsur organisme dan lingkungan biofisik serta unsur kimia berinteraksi secara dinamis dan di  dalamnya terdapat keseimbangan  inflow dan  outflow dari material dan energi.

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan wilayah yang paling tepat bagi pembangunan, tempat bertemunya kepentingan nasional dengan kepentingan setempat. Pembangunan ekonomi yang mengolah kekayaan alam Indonesia harus senantiasa memperhatikan bahwa pengelolaan sumber daya alam juga bertujuan untuk memberi manfaat pada masa yang akan datang. Oleh sebab itu, sumber daya alam terutama hutan, tanah, dan air harus tetap dijaga agar kemampuannya untuk memperbaiki diri selalu terpelihara.

Perencanaan tata ruang harus mempertimbangkan daerah hulu dan daerah hilir DAS, terkait peruntukan lahan maka perencanaan peruntukan lahan haruslah meliputi seluruh DAS.  Secara Hidrologis wilayah hulu dan hilir merupakan satu kesatuan organis yang tidak dapat terpisahkan, keduanya memiliki keterkaitan dan ketergantungan yang sangat tinggi (Purwanto,1997).

Daerah Aliran Sungai biasanya dibagi menjadi daerah hulu, tengah, dan daerah hilir. Daerah hulu dicirikan sebagai daerah konservasi, mempunyai kerapan drainase yang lebih tinggi, merupakan daerah dengan kemiringan lereng lebih besar (lebih besar dari 15%), bukan merupakan daerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase. Sementara daerah hilir DAS merupakan daerah pemanfaatan, kerapatan drainase lebih kecil, merupakan daerah dengan kemiringan kecil sampai sangat kecil (kurang dari 8%), pada beberapa tempat merupakan daerah banjir (genangan air). Ekosistem DAS hulu merupakan bagian yang sama pentingnya dengan daerah hilir karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS (Asdak, 1995).


Karakteristik DAS
Karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS) meliputi beberapa  variable yang dapat diperoleh melalui pengukuran langsung, data sekunder, peta dan dari data penginderaan jauh (remote sensing). (Seyhan, 1977) menyatakan bahwa karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS) dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu: (1) Faktor lahan (ground factor), yang meliputi topografi, tanah, geologi, geomorfologi dan  (2) Faktor vegetasi dan penggunaan lahan.

Luas Daerah Aliran Sungai
Luas suatu DAS atau Sub DAS dapat diukur secara langsung ke lapangan atau secara langsung di peta citra satelit atau peta topografi (TOP)/ peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) dengan menggunakan alat ukur luas (planimeter), atau dengan sistem Geographic Information System (GIS). Sebelum melakukan penelitian maka batas DAS harus ditentukan (deliniasi).
Bentuk DAS
Bentuk DAS mempunyai pola aliran dan ketajaman puncak discharge banjir. Bentuk DAS sulit dinyatakan secara  kuantitatif. Dengan membandingkan konfigurasi basin dapat dibuat suatu indeks yang berdasarkan pada derajad kekadaran circulaty dari DAS. 

Lereng
Pengukuran lereng di lapangan dapat digunakan abney level atau Clinometer, sedangkan pengukuran lereng melalui peta topografi atau peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) dapat menggunakan  Slope Meter atau dengan mencari beda tinggi dengan paralaks meter atau dengan menggunakan rumus Avery (1975) menggunakan contour length methode.

Ketinggian
Ketinggian suatu tempat dapat diketahui dari peta topografi, diukur di lapangan atau melalui foto udara jika terdapat salah satu titik kontrol sebagai titik ikat. Ketinggian rata-rata pada suatu DAS merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap temperatur dan pola hujan khususnya pada daerah topografi bergunung.

Jaringan Sungai
Pola aliran atau susunan sungai suatu DAS merupakan karakteristik fisik setiap drainase basin yang penting karena pola aliran sungai mempengaruhi efisiensi sistem drainase dan karakteristik  hidrografis, dan pola aliran menentukan bagi pengelola DAS untuk mengetahui kondisi tanah dan permukaan DAS khususnya tenaga erosi (Anonim, 1996).

Pola Aliran
Terdapat bermacam-macam bentuk pola aliran yang masing-masing dirincikan oleh kondisi yang dilewati oleh sungai tersebut. Delapan jenis pola aliran yang biasa dijumpai adalah pola  dendritik, parallel, trellis, rectangular, radial, annural, multibasinal dan contorted. Pola aliran dendritik yang mencirikan sebagian besar sungai-sungai di Indonesia, dapat dijumpai dalam kondisi yang berbeda-beda menurut batuannya.




Sungai Terpanjang dan Sungai Induk
Panjang sungai terpanjang dan sungai induk DAS diukur dari outlet ke sumber asal air, yaitu dari mulut DAS (outlet/mouth of watershed) sampai sumber air. Sedangkan panjang sungai utama diukur dari mulut DAS sampai ujung sungai utama.

Vegetasi dan Penutupan Lahan
Peran vegetasi mempunyai arti yang sangat penting dalam proses hidrologi suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu  intercepting hujan yang jatuh dan transpirating air yang terabsorpsi oleh akarnya.

Tanah dan Batuan
Tipe dan distribusi tanah dalam suatu Daerah Aliran Sungai adalah penting untuk mengontrol aliran bawah permukaan (sub surface flow) melalui proses infiltrasi. Variasi dalam tipe tanah dengan kedalaman dan luas tertentu akan mempengaruhi karakteristik infiltrasi dan timbunan kelembaban tanah (soil moister storage).

Definisi DAS Berdasarkan Fungsi
Dalam rangka memberikan gambaran keterkaitan secara menyeluruh dalam pengelolaan DAS, terlebih dahulu diperlukan batasan-batasan mengenai DAS berdasarkan fungsi, yaitu pertama DAS bagian hulu didasarkan pada fungsi konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah hujan.

Kedua DAS bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan  ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.

Ketiga DAS bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah.

Keberadaan sektor kehutanan di daerah hulu yang terkelola dengan baik dan terjaga keberlanjutannya dengan didukung oleh prasarana dan sarana di bagian tengah akan dapat mempengaruhi fungsi dan manfaat DAS tersebut di bagian hilir, baik untuk pertanian, kehutanan maupun untuk kebutuhan air bersih bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan adanya rentang panjang DAS yang begitu luas, baik secara administrasi maupun tata ruang, dalam pengelolaan DAS diperlukan adanya koordinasi berbagai pihak terkait baik lintas sektoral maupun lintas daerah secara baik.

Pengelolaan DAS
Pengelolaan DAS dapat disebutkan merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang secara umum untuk mencapai tujuan peningkatan produksi pertanian dan kehutanan yang optimum dan berkelanjutan (lestari) dengan upaya  menekan kerusakan seminimum mungkin agar distribusi aliran air sungai yang berasal dari DAS dapat merata sepanjang tahun.

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai bersifat multidisiplin dan lintas sektoral maka dalam pelaksanaan sistem perencanaan pengelolaan DAS perlu diterapkan azas One River One Plan,  yaitu suatu perencanaan terpadu dengan memperhatikan kejelasan keterkaitan antar sektor pada tingkat daerah/wilayah dan nasional serta kesinambungan-nya. Selain itu pelaksanaan pengelolaan DAS umumnya melalui tiga upaya pokok :
·       Pengelolaan tanah melalui usaha konservasi tanah dalam arti luas;
·       Pengelolaan sumber daya air melalui usaha perlindungan sumber daya air;
·       Pengelolaan hutan, khususnya hutan lindung. 

Kegiatan pengelolaan DAS juga dihubungkan dengan kelestarian sumber daya air, yaitu:
·       Kuantitatif: memperbesar suplai ke dalam tanah sehingga menambah tampungan air tanah dan meningkatkan suplai air tanah ke alur sungai yang berdampak mengurangi fluktuasi debit limpasan;
·       Kualitatif: mengurangi kandungan material tersuspensi aliran sungai (suspended load). Sebagai akibat bertambah besarnya air hujan yang masuk ke dalam tanah sehingga pengikisan permukaan berkurang;

Dampak lain dari pengelolaan DAS yang baik adalah peningkatan produktivitas lahan karena peningkatan resapan air hujan ke dalam tanah akan menambah kadar lengas tanah (soil moisture) yang selain akan memperbesar ketersediaan air juga meningkatkan proses disintegrasi dan dekomposisi regolith dan batuan induk yang berakibat meningkatnya unsur mineral dan unsur hara tanah yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan tanaman.

Ditinjau dari pengelolaan kondisi fisik DAS terdapat 3 jenis pengelolaan, yaitu:
·       Secara teknis, yaitu pengelolaan dengan teknik-teknik konservasi lahan
·       Secara vegetatif, yaitu dengan penghutanan kembali lahan
·       Secara kimiawi, yaitu dengan pemanfaatan zat-zat kimia untuk meningkatkan kualitas lahan

Menurut Asdak (1999), dalam keterkaitan biofisik wilayah hulu-hilir suatu DAS, perlu adanya beberapa hal yang menjadi perhatian, yaitu sebagai berikut : 
1)  Kelembagaan yang efektif seharusnya mampu merefleksikan keterkaitan lingkungan  biofisik dan sosial ekonomi dimana lembaga tersebut beroperasi.  Apabila aktifitas pengelolaan di bagian hulu DAS akan menimbulkan dampak yang nyata pada lingkungan biofisik dan/atau sosial ekonomi di bagian hilir dari DAS yang sama, maka perlu adanya desentralisasi pengelolaan DAS yang melibatkan bagian hulu dan hilir sebagai satu kesatuan perencanaan dan pengelolaan.
2)  Eksternalities, adalah dampak (positif/negatif) suatu aktifitas/program dan atau kebijakan yang dialami/dirasakan di luar daerah dimana program/kebijakan dilaksanakan. Dampak tersebut seringkali tidak terinternalisir dalam perencanaan kegiatan. Dapat dikemukakan bahwa  negative externalities  dapat mengganggu tercapainya  keberlanjutan pengelolaan DAS bagi : (a) masyarakat di luar wilayah kegiatan (spatial externalities), (b) masyarakat yang tinggal pada periode waktu tertentu setelah kegiatan berakhir (temporal externalities), dan (c) kepentingan berbagai sektor ekonomi yang berada di luar lokasi kegiatan (sectoral externalities).
3)  Dalam kerangka konsep “externalities”, maka pengelolaan sumberdaya alam dapat dikatakan baik apabila keseluruhan biaya dan keuntungan yang timbul oleh adanya kegiatan pengelolaan tersebut dapat ditanggung secara proporsional oleh para aktor (organisasi pemerintah, kelompok masyarakat atau perorangan) yang melaksanakan kegiatan pengelolaan sumberdaya alam (DAS) dan para aktor yang akan mendapatkan keuntungan dari adanya kegiatan tersebut. Pada penanganan DAS bagian hulu diarahkan pada kawasan budidaya (pertanian)

Pentingnya posisi DAS sebagai unit pengelolaan yang utuh merupakan konsekuensi logis untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan sumberdaya hutan, tanah dan air. Kurang tepatnya perencanaan dapat menimbulkan adanya degradasi DAS yang mengakibatkan lahan menjadi gundul, tanah/lahan menjadi kritis dan erosi pada lereng-lereng curam. Pada akhirnya proses degradasi tersebut dapat menimbulkan banjir yang besar di musim hujan, debit sungai menjadi sangat rendah di musim kemarau, kelembaban tanah di sekitar hutan menjadi berkurang di musim kemarau sehingga dapat  menimbulkan kebakaran hutan, terjadinya percepatan sedimen pada waduk-waduk dan jaringan irigasi yang ada, serta penurunan kualitas air.

Pada prinsipnya kebijakan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) merupakan hal yang sangat penting dalam rangka mengurangi dan  menghadapi permasalahan sumberdaya air baik dari segi kualitas dan kuantitasnya.  Kebijakan ini oleh karenanya merupakan bagian terintegrasi dari kebijakan lingkungan yang didasarkan pada  data akademis maupun teknis. Beragamnya kondisi lingkungan pada beberapa daerah serta perkembangan ekonomi dan sosial, menjadikan tantangan bagi perkembangan daerah. Sehingga menuntut juga keberagaman spesifik analisa serta solusinya. Keberagaman ini harus diperhitungkan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan untuk memastikan bahwa perlindungan dan penggunaan DAS secara berkelanjutan ada dalam suatu rangkaian kerangka kerja (framework).